
Jumat, 27 Februari 2026 menjadi momentum yang sarat makna bagi keluarga besar Al-Siddiq International School. Bertempat di Masjid Al Siddiq International School lantai 2, acara pelepasan Kepala Sekolah, Mr. Yusuf Yudhana, S.Pd, dilaksanakan seusai dzikir bersama, menghadirkan suasana yang khidmat, reflektif, dan penuh haru.
Lantunan dzikir yang menggema di ruang utama masjid tidak sekadar menjadi pembuka rangkaian acara, melainkan simbol bahwa setiap kepemimpinan dalam institusi pendidikan berpijak pada nilai spiritual dan tanggung jawab moral. Dari ruang yang penuh keberkahan itulah doa-doa dilangitkan, mengiringi transisi kepemimpinan yang telah menorehkan jejak sejarahnya sendiri.
Apresiasi dan Refleksi Kepemimpinan
Dalam sambutannya, perwakilan Komite Sekolah yang diwakili oleh Ibu Delta Jagad menyampaikan apresiasi mendalam kepada Mr. Yusuf Yudhana, S.Pd, atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan.
“Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah peradaban. Di tangan seorang pemimpinlah arah ditentukan dan budaya dibentuk. Terima kasih atas dedikasi yang tinggi selama ini demi memajukan Al-Siddiq International School.”
Ungkapan tersebut merefleksikan penghargaan atas kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada capaian program, tetapi juga pada pembentukan kultur sekolah yang progresif dan berkarakter.
Sementara itu, dalam sambutan perpisahannya, Kepala Sekolah menyampaikan pesan yang menyentuh dan penuh ketulusan.
“Sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang tumbuhnya karakter dan cita-cita besar. Jika hari ini kita melihat anak-anak lebih percaya diri, lebih berakhlak, dan lebih berprestasi, itu adalah hasil kerja bersama.”
Beliau juga menyampaikan terima kasih kepada para guru, Komite Sekolah, serta seluruh siswa atas kolaborasi dan dukungan yang terjalin selama masa kepemimpinan. Baginya, setiap capaian yang diraih merupakan buah dari kebersamaan, bukan kerja individual semata.
Perpisahan ini ditegaskan bukan sebagai akhir dari kebersamaan, melainkan perubahan peran dalam panggung pengabdian. Kepemimpinan boleh berganti, namun nilai dan semangat yang telah ditanamkan tidak boleh berhenti. Sekolah akan terus melangkah maju karena dibangun di atas fondasi kebersamaan, integritas, dan doa.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin secara khidmat, memohon keberkahan atas setiap langkah pengabdian yang telah dilalui. Suasana haru semakin terasa ketika seluruh guru, siswa, dan Komite Sekolah saling bersalaman dan bermaaf-maafan dengan Kepala Sekolah. Momentum tersebut menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan yang telah terbangun—bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan perjumpaan hati yang dilandasi rasa hormat, terima kasih, dan doa tulus untuk keberlanjutan pengabdian di masa mendatang.di masa mendatang.
By Retno Suzzane, Lc, M. Pd