
Rabu pagi, 20 Agustus 2025, suasana SMP Al-Siddiq International tampak berbeda. Sejak pukul 07.00 WIB, halaman dan ruang-ruang belajar dipenuhi denyut kegiatan yang tak sekadar rutinitas, melainkan bagian dari penguatan jati diri: penyuluhan wudhu dan shalat berjamaah.
Di bawah bimbingan para guru Qur’an yang mumpuni—Ust. Muhammad Ikram Jundulloh, S.Pd (kelas 7 putra), Ust. Abdul Aziz, S.Pd (kelas 8 putra), Ust. Ahmad Toha, M.Ag (kelas 9 putri), Ustadzah Retno Suzanne Handayani, Lc (kelas 7 putri), Ustadzah Mile Febri Wahyuni (kelas 8 putri), dan Ustadzah Diah Santikawati, S.Pd.I (kelas 9 putri)—para siswa-siswi diajak tidak hanya untuk memahami teknis bersuci dan berjamaah, tetapi juga memaknai makna terdalamnya.
Wudhu, yang sering kali dianggap sebatas ritual, dihadirkan kembali sebagai proses penyucian jiwa; air yang membasuh bukan hanya membersihkan anggota tubuh, tetapi menjadi simbol kesiapan hati untuk berdiri di hadapan Sang Pencipta. Shalat berjamaah pun dibingkai sebagai latihan kebersamaan dan kepemimpinan. Para siswa tidak hanya belajar menjadi makmum, tetapi juga mempraktikkan cara menjadi imam, lengkap dengan doa dan bacaan-bacaannya—sebuah pelatihan tanggung jawab yang kelak menjadi bekal di tengah masyarakat.
Kegiatan ini bukan sekadar pembelajaran agama, melainkan penegasan pesan yang sering disampaikan para cendekia: bahwa iman yang kuat lahir dari pemahaman yang benar, dan pemahaman itu tumbuh dari latihan yang terarah. Di usia yang masih muda, anak-anak SMP Al-Siddiq diajak untuk tidak hanya tahu, tetapi juga merasakan dan menghidupi nilai-nilai ibadah dalam keseharian.
By Umair Shoddiq, S.I.Kom