
Jakarta, 29 September 2026 — Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Hal tersebut dirasakan langsung oleh para siswa SMP Al-Siddiq dalam kegiatan City Tour ke kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang dimulai pada pukul 08.30 WIB dari Stasiun LRT Cikunir 1 tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui kunjungan ke Museum Bank Indonesia, Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta), dan Museum Seni.
Tidak hanya mengenal sejarah, para siswa juga diperkenalkan dengan penggunaan transportasi publik, sistem pembayaran elektronik, perkembangan perekonomian Indonesia, seni dan budaya, hingga berbagai peninggalan sejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa.
Mengenal Transportasi Publik Sejak dari Perjalanan
Sejak awal perjalanan, para siswa telah mendapatkan pengalaman belajar. Rombongan menggunakan LRT dan KRL untuk menuju kawasan Kota Tua.
Penggunaan transportasi publik tersebut sengaja dipilih agar siswa tidak hanya menjadi pengguna transportasi, tetapi juga mengenal secara langsung bagaimana sistem transportasi publik bekerja dalam kehidupan masyarakat perkotaan.
Para siswa juga diperkenalkan dengan penggunaan e-money sebagai alat pembayaran. Pengalaman sederhana tersebut menjadi pembelajaran praktis mengenai pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari sekaligus melatih kemandirian, kedisiplinan, dan ketertiban ketika menggunakan fasilitas umum.
Untuk memastikan perjalanan berjalan aman dan kondusif, rombongan siswa dibagi menjadi 11 kelompok, dengan masing-masing kelompok didampingi oleh satu guru wali. Sistem pendampingan tersebut memungkinkan proses pengawasan, pengayoman, pengarahan, dan koordinasi dengan siswa dapat dilakukan secara lebih efektif.
Menelusuri Sejarah Perekonomian Indonesia di Museum Bank Indonesia
Setibanya di kawasan Kota Tua, rombongan mengunjungi Museum Bank Indonesia.
Di museum ini, para siswa mendapatkan kesempatan untuk melihat perjalanan sejarah mata uang dan perekonomian Indonesia dari masa ke masa. Berbagai koleksi memperlihatkan perkembangan alat pembayaran sejak masa kedatangan bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, hingga perkembangan mata uang Indonesia pada masa modern.
Siswa dapat mengamati berbagai bentuk mata uang, baik uang kertas maupun uang logam, serta berbagai benda yang berkaitan dengan sejarah sistem keuangan Indonesia.
Tidak berhenti pada mata uang, para siswa juga dapat melihat emas batangan, surat berharga, sukuk, obligasi, serta berbagai koleksi yang menggambarkan perkembangan sistem keuangan dan perekonomian.
Kunjungan tersebut memberikan pemahaman bahwa perjalanan ekonomi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah perdagangan dan kekayaan sumber daya alam Nusantara.
Berbagai komoditas seperti rempah-rempah, merica, kayu manis, kopi, dan hasil bumi lainnya memiliki peranan penting dalam sejarah perdagangan Indonesia. Kekayaan alam tersebut bahkan menjadi salah satu faktor yang menarik bangsa-bangsa asing datang ke Nusantara.
Dengan melihat koleksi museum secara langsung, siswa diajak memahami hubungan antara sumber daya alam, perdagangan, kolonialisme, sistem keuangan, dan perkembangan ekonomi Indonesia.
Mengenal Sejarah Jakarta di Museum Fatahillah
Setelah mengunjungi Museum Bank Indonesia, perjalanan dilanjutkan ke Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta yang berada tidak jauh dari lokasi sebelumnya.
Museum ini membawa siswa untuk menelusuri perjalanan sejarah Jakarta dari masa kerajaan hingga masa kolonial.
Siswa dapat melihat berbagai koleksi dan replika peninggalan sejarah, termasuk Prasasti Ciaruteun, Prasasti Tugu, serta Prasasti Padrão Sunda Kelapa yang berkaitan dengan perjalanan sejarah wilayah Jakarta dan Nusantara.
Berbagai ruang tematik di museum juga memberikan gambaran mengenai perkembangan Jakarta, mulai dari Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung hingga Ruang Batavia.
Selain itu, terdapat berbagai benda bersejarah seperti mebel antik, keramik, gerabah, koleksi numismatik, senjata, lukisan gubernur jenderal Batavia, hingga patung perunggu Dewa Hermes.
Koleksi mebel antik dari sekitar abad ke-17 hingga ke-19 juga memperlihatkan pertemuan berbagai kebudayaan, termasuk pengaruh Eropa, Tiongkok, dan Nusantara.
Menyaksikan Jejak Perjuangan dari Dekat
Salah satu bagian yang menarik perhatian siswa adalah penjara bawah tanah. Ruang tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi para tahanan pada masa kolonial yang harus menjalani kehidupan dalam ruang yang sempit dan gelap.
Siswa juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal bagian museum yang berkaitan dengan sejarah Pangeran Diponegoro dan masa penahanan sebelum beliau menjalani pengasingan.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif bahwa sejarah bukan sekadar hafalan mengenai nama tokoh dan tahun kejadian. Sejarah juga merupakan kisah tentang manusia, perjuangan, penderitaan, perubahan, dan perjalanan sebuah bangsa.
Menumbuhkan Apresiasi Seni dan Kreativitas di Museum Seni
Rangkaian City Tour kemudian dilengkapi dengan kunjungan ke Museum Seni. Kehadiran museum seni memberikan dimensi pembelajaran yang berbeda bagi para siswa.
Jika Museum Bank Indonesia membawa siswa mengenal perjalanan ekonomi dan Museum Fatahillah memperkenalkan sejarah Jakarta, maka kunjungan ke Museum Seni memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal karya seni, kebudayaan, kreativitas, dan cara manusia mengekspresikan gagasan melalui karya.
Di museum ini, siswa diajak untuk mengamati berbagai karya secara lebih dekat. Mereka belajar bahwa seni bukan hanya mengenai keindahan, tetapi juga dapat menjadi media untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, identitas budaya, sejarah, dan pandangan manusia terhadap kehidupan.
Pengalaman melihat karya seni secara langsung juga diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi terhadap seni dan budaya, memperluas wawasan, serta mendorong kreativitas siswa.
Bagi siswa, kunjungan ini menjadi pengalaman untuk belajar melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Sebuah karya dapat memiliki bentuk, warna, simbol, dan makna yang berbeda-beda, sehingga siswa didorong untuk mengamati, bertanya, berpikir kritis, dan menyampaikan pendapat.
Dengan demikian, kunjungan ke Museum Seni menjadi pelengkap perjalanan edukatif yang mempertemukan sejarah, ekonomi, budaya, dan kreativitas dalam satu rangkaian kegiatan.
Perjalanan Pulang: Kembali Menggunakan KRL dan LRT
Setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai, kegiatan City Tour ditutup sekitar pukul 14.00 WIB. Rombongan bertolak dari kawasan Kota Tua menuju perjalanan pulang dengan kembali menggunakan transportasi publik.
Dari kawasan Kota Tua, siswa bersama guru pendamping menggunakan KRL menuju Stasiun Cikoko. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan LRT dari Stasiun Cikoko menuju Stasiun Cikunir, sebagai titik akhir perjalanan.
Perjalanan pulang tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi siswa untuk kembali mempraktikkan pengalaman menggunakan transportasi publik yang telah mereka pelajari sejak pagi.
Bukan Sekadar Jalan-Jalan
City Tour SMP Al-Siddiq menjadi contoh bahwa proses pendidikan dapat berlangsung di mana saja. Perjalanan sehari tersebut mempertemukan berbagai bidang pembelajaran sekaligus: sejarah, ekonomi, seni, budaya, teknologi, transportasi, kedisiplinan, dan pendidikan karakter.
Para siswa tidak hanya melihat benda-benda bersejarah, tetapi diajak memahami konteks di baliknya. Mereka melihat bagaimana perdagangan dan kekayaan alam memengaruhi perjalanan ekonomi Indonesia, bagaimana mata uang berkembang dari masa ke masa, bagaimana Jakarta mengalami perubahan dari masa kerajaan hingga kolonial, serta bagaimana seni menjadi salah satu cara manusia merekam gagasan dan kebudayaan.
Di sisi lain, penggunaan LRT dan KRL memberikan pengalaman praktis mengenai pentingnya ketertiban, kemandirian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap fasilitas umum.
Dengan pendampingan 11 guru wali pada masing-masing kelompok, kegiatan juga dapat berlangsung dengan lebih terarah, aman, dan kondusif.
Pada akhirnya, City Tour ini bukan sekadar perjalanan keluar sekolah. Ia menjadi sebuah ruang belajar yang nyata, tempat siswa dapat melihat, mengamati, bertanya, berdiskusi, dan merasakan langsung berbagai pengetahuan yang selama ini mereka pelajari di dalam kelas.
Dari Stasiun Cikunir hingga Kota Tua, dari sejarah mata uang hingga sejarah perjuangan bangsa, dari karya seni hingga perkembangan transportasi modern, para siswa SMP Al-Siddiq membawa pulang bukan hanya kenangan perjalanan, tetapi juga wawasan baru tentang sejarah, ekonomi, seni, budaya, dan kehidupan Indonesia.
Belajar dari perjalanan, mengenal sejarah dari dekat, mengapresiasi seni, dan menumbuhkan pengalaman untuk membentuk generasi yang lebih berwawasan.
By Retno Suzanne Handayani, Lc, M.Pd